Cewekku namanya Dela. Sebenarnya dia baik. Apalagi wajahnya cantik dan dia adalah seorang yang periang. Suasana jadi selalu ramai. Dan malam ini, aku seneng banget bisa berduaan sama Dela setelah kesibukan di kampus. Malam ini indaaahh.... banget! Tapi sebuah sms telah mengacaukan semuanya. Dan Dela yang cantik dan baik itu, berubah bagai kucing yang sedang mengamuk.
Dela menyodorkan ponselku setelah dia membaca sms yang masuk tadi. Dela memang selalu 'menguasai' ponselku saat kami sedang bersama-sama.
Aku jadi penasaran. Ada yang nggak beres nih!
Ternyata dari Ade!
'Malam…. age apa? Sebel deh nggak bisa ketemu mas. Dari kemarin ada aja alasan. Skrg mas dmana?'
"Ada ya, temen yang rajin laporan; jam segini ada di sini, lagi begini, mau begitu, nanti begini, besok bla-bla-.bla! Selalu ada selamat pagi, sore, malam... terus selalu mau tahu ada dimana, ngapain...." Dela melotot. "Sumpah! Sebenernya hubungan kalian sampe mana sih? Ada apa? Nggak mungkin cuma temenan. Atau.... Temen Tapi Mesra?"
Aku memilih diam. Dela pantas marah. Dia pasti cemburu. Hei, cemburu kan tanda cinta. Berarti Dela cinta banget dong sama aku!
"Aq juga punya temen cowok, mas! Tapi nggak gitu-gitu banget! Aq bisa hapal, dalam satu minggu, sms dari cewek rese itu bisa masuk ke hp qm lebih dari dua puluh kali! Hebat!"
Aku masih diam.
"Aq pikir, setelah petengkaran-pertengkaran kita, qm akan membatasi hubungan qm sama cewek itu. Terutama setelah pertengkaran terakhir kita minggu lalu. Eh... ternyata hasilnya masih sama ! qm masih kayak begini?"
"Del, coba simak lagi. Baca sekali lagi. Dia bilang kan sebel nggak bisa ketemu mas dan selalu ada alasan. Nah, berarti mas udah berusaha menjauhi dia, kan? Ayolah, jangan rusak malam ini, Del!"
"Malam ini udah kelewat rusak! Aq mau pulang!"
Dela beranjak tanpa babibu lagi. Malam ini keindahannya sudah berakhir.
Ternyata dari Ade!
'Malam…. age apa? Sebel deh nggak bisa ketemu mas. Dari kemarin ada aja alasan. Skrg mas dmana?'
"Ada ya, temen yang rajin laporan; jam segini ada di sini, lagi begini, mau begitu, nanti begini, besok bla-bla-.bla! Selalu ada selamat pagi, sore, malam... terus selalu mau tahu ada dimana, ngapain...." Dela melotot. "Sumpah! Sebenernya hubungan kalian sampe mana sih? Ada apa? Nggak mungkin cuma temenan. Atau.... Temen Tapi Mesra?"
Aku memilih diam. Dela pantas marah. Dia pasti cemburu. Hei, cemburu kan tanda cinta. Berarti Dela cinta banget dong sama aku!
"Aq juga punya temen cowok, mas! Tapi nggak gitu-gitu banget! Aq bisa hapal, dalam satu minggu, sms dari cewek rese itu bisa masuk ke hp qm lebih dari dua puluh kali! Hebat!"
Aku masih diam.
"Aq pikir, setelah petengkaran-pertengkaran kita, qm akan membatasi hubungan qm sama cewek itu. Terutama setelah pertengkaran terakhir kita minggu lalu. Eh... ternyata hasilnya masih sama ! qm masih kayak begini?"
"Del, coba simak lagi. Baca sekali lagi. Dia bilang kan sebel nggak bisa ketemu mas dan selalu ada alasan. Nah, berarti mas udah berusaha menjauhi dia, kan? Ayolah, jangan rusak malam ini, Del!"
"Malam ini udah kelewat rusak! Aq mau pulang!"
Dela beranjak tanpa babibu lagi. Malam ini keindahannya sudah berakhir.
***
Aku bukan teman yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat temanku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih.
Dela berhak marah dan cemburu. Cewek mana pun pasti akan berlaku sama. Ade adalah salah satu teman baikku. Bersama teman yang lain, kami selalu bersama-sama. Kemudian kami semua pisah sekolah, tapi kami tetap berkomunikasi dan janji bertemu. Terakhir hubungan itu masih tetap terjalin saat kami masing-masing duduk di bangku SMA. Sejak kami duduk di bangku kuliah hubungan itu terputus. Meskipun kami berdua masih dalam satu kampus yang sama. Kami masing-masing sibuk. Saat aku mulai pacaran sama Dela, tiba-tiba Ade menghubungiku lagi dan komunikasi kami kembali lancar. Tapi Dela nggak bisa menerima. Di mata Dela, aku dan Ade terlalu dekat.
Ade benar-benar temankuku. Tidak lebih. Kalau menurut Dela aku terlalu memperhatikan Ade, ia, itu memang benar! Aku tahu banyak tentang Ade . Di balik sikapnya yang rame, ternyata suatu saat dia bisa begitu rapuh dan menja. Dia orang yang sangat lemah. Ade memang lemah. Dia tidak seperti kelihatannya. Kalau sudah begitu aku hanya bisa memeluknya. Berada di dekat Ade membuatku merasa dibutuhkan.
Ade gak pernah tahu tentang Dela. Aku tak pernah menceritakan soal dela kepada Ade. Tapi kepada Dela aku bercerita tentang temanku Ade. Dela tau kalau Ade itu hanya temanku. Memang aq belum pernah mempertemukan mereka. Tapi Dela sudah cukup percaya sama saya. Mulanya Dela bisa menerima kalau aku temenan sama Ade. Tapi lama-lama kemudian Dela mulai menunjukkan sikap posesifnya. Dia mulai nggak suka melihat aku teleponan sama Ade. Dia juga benci banget kalau melihat sms Ade muncul. Aku juga bingung. Aku nggak mungkin memutuskan persahabatanku dengan Ade begitu saja, terutama karena aku tahu banyak apa yang sedang menimpa Ade... Ade sedang membutuhkan seseorang. Kebetulan orang itu adalah aku.
***
Hari ini aku ingin sekali menelepon Dela. Aku ingin minta maaf dan ingin merayunya. Tapi Dela pasti masih sebel banget sama aku. Kalau masih marah begitu, dia akan menolak teleponku atau malah menutupnya. Paling sial kalau dia malah ngamuk dan mengeluarkan kata-kata mantra di telepon. Mending tunda dulu deh menelepon dia. Biar dia tenang dulu. Kalau sudah tenang, aku yakin Dela pasti mau menerima teleponku dan memaafkan aku. Malah Dela pasti kangen sama aku. Hah!
Mending aku telepon Ade dulu. Aku akan jelaskan soal smsnya kemarin malam itu.
"Haaa... qm jahat!"
Itu kalimat pertama yang aku dengar begitu ponselku nyambung ke nomornya.
"Aq sibuk, De!"
"Haaa... sok sibuk! Sampe nggak sempet hubungin aq. Jahat!"
"Udah ah jangan marah-marah mulu! Kan sekarang mas hubungin elo. Gimana, lo sehat kan, baik-baik aja kan?"
"Lumayan. Kemarin agak capek dan kambuh lagi. Tapi baik-baik aja, kok. Sekarang Ade lagi nyiapin sumpahan buat mas!"
Itulah Ade. Rame n nyenengin,…
Tapi Dela… walaupun sebenernya aq sayang sama dia dan dia jg sayang sama aq, tapi cara dia menyayangiku kadang membuat aku bosan,.. pengen cari cewek lain aja lo lagi seperti ini,..
Hah,.. pikiranku malah tambah melayang kemana-mana,…
"Kenapa qm mas? Kok diam aja? Haaa... takut ya sama sumpahan aq? Tenang, sumpahan yang aq siapin ini nggak jahat-jahat banget kok. Cuma... 'sumpah jerawat lo tambah banyak, sumpah lo nggak ganteng lagi, sumpah lo nggak kawin-kawin.... hahaha!"
"Kenapa qm mas? Kok diam aja? Haaa... takut ya sama sumpahan aq? Tenang, sumpahan yang aq siapin ini nggak jahat-jahat banget kok. Cuma... 'sumpah jerawat lo tambah banyak, sumpah lo nggak ganteng lagi, sumpah lo nggak kawin-kawin.... hahaha!"
Aku masih diem, pikiranku kemana-mana. Sementara orang yang ada di seberang telfon sana terus menerus menegurku,…
"Heh, mas,… gak seru ahh!, ada apa cih??"
"Gak pa-pa de’, ya udah mas mau mandi dulu ya. Mas seneng Ade baik-baik aja."
"Ea, yaudah mas buruan mandi geh,.."
"Heh, mas,… gak seru ahh!, ada apa cih??"
"Gak pa-pa de’, ya udah mas mau mandi dulu ya. Mas seneng Ade baik-baik aja."
"Ea, yaudah mas buruan mandi geh,.."
"Key,.."
Tep.
Baru saja ponsel kumatikan, di depanku sudah berdiri Dela plus dengan muka cemberutnya yang bikin cantiknya bener-bener hilang.
"Pantes dihubungin dari tadi hp mas sibuuukk terus."
"Dela? Ngapain ke sini?" Sumpah mas kaget. Nggak nyangka pacarku datang duluan sebelum aku minta maaf dan merayunya.
"Dela ke sini mau ngambil dompet yang semalam ketinggalan di jok motor mas! Gak usah GR!" Dela beranjak ke motorku membuka joknya, yang kebetulan kuncinya masih menggantung disana. Aku segera menarik tangannya.
"Del, maafin soal semalam ya."
"Aduh mas! Cape deh kalo cuma denger maaf, maaf, maaf."
"Abisnya mas mesti ngomong apa lagi?"
Tak disangka tiba-tiba Dela meraih ponsel di tanganku dengan gerakan cepat. Dia mengecek sesuatu. Lalu...
"Barusan aja mas abis nelepon dia, ini buktinya!" Dela menunjukkan register di ponselku. Aku nggak bisa mengelak. "Sementara semalam kita baru berantem soal ini, eh mas udah asyik-asyik teleponan sama dia."
"Mas lagi jelasin ke dia, supaya dia nggak hubungin mas lagi...."
"Basi!"
"Bener Del!"
Dela tak menggubris kata-kataku, dia beranjak. Aku mengejarnya.
"Lupain aku mas, aku mang gak pantes buat mas. Dia yang lebih mas butuhkan." Dela menepis tanganku.
Oalah jd intinya Dela minta putus! Putus dari Dela? Bisa gempa bumi aku! Aku nggak mau kehilangan cewek ini. Aku harus menyelamatkan hubungan ini.
"Del, Masa kayak gitu aja ngambek sih? Apa sih yang salah dengan persahabatan mas dan Ade?"
"Ya jelas salah! Mas kan udah punya cewek. jaga dong perasaan cewek mas!"
"Oke, kasih mas kesempatan. Apa yang harus mas lakukan?"
Dela berhenti. Menatapku dengan matanya yang dingin.
"Cewek mana pun akan berlaku sama mas. Jangan sakitin Dela! Kita udah sering bertengkar soal Ade, Ade, dan Ade...! Dela capek. Sekarang mas harus pilih Dela atau dia!"
"Kenapa harus milih? Mas nggak perlu milih Del, karena Dela memang pacar mas, sedangkan Ade cuma temen."
"Kalo emang Dela begitu berarti buat Mas, jauhin Ade. Cuma itu."
Aku terpekur. Lama kemudian aku mengangguk.
***
Aku menepati janjiku pada Dela. Sms dan telepon Ade tak kugubris. Lama-lama Dela mulai percaya lagi padaku dan aku merasa damai. Lama-lama juga Ade merasa kalau aku menjauhinya. Mungkin Ade kecewa. Suatu hari dia mengirim sms:
'Mas, Ade kangen sama mas. Dah lama mas gak ngubungin Ade. Ade sendirian dikos mas. Ade butuh mas.'
Aku trenyuh membaca kalimat itu. Ade mungkin sedang sendirian. Dia butuh seseorang. Tapi aku terikat janji pada Dela. Mau gak mau terpaksa sms itu aku abaikan. Hari berganti hari. Ade masih terus mengirim sms. Aku tak kuat untuk tak membalasnya, akhirnya tanpa sepengetahuan Dela aku mulai sms’an lagi sama Ade. Semakin lama hubunganku dengan Ade semakin mengakrab lagi. Apapun yang Ade lakuin pasti aku mengetahuinya.
Tep.
Baru saja ponsel kumatikan, di depanku sudah berdiri Dela plus dengan muka cemberutnya yang bikin cantiknya bener-bener hilang.
"Pantes dihubungin dari tadi hp mas sibuuukk terus."
"Dela? Ngapain ke sini?" Sumpah mas kaget. Nggak nyangka pacarku datang duluan sebelum aku minta maaf dan merayunya.
"Dela ke sini mau ngambil dompet yang semalam ketinggalan di jok motor mas! Gak usah GR!" Dela beranjak ke motorku membuka joknya, yang kebetulan kuncinya masih menggantung disana. Aku segera menarik tangannya.
"Del, maafin soal semalam ya."
"Aduh mas! Cape deh kalo cuma denger maaf, maaf, maaf."
"Abisnya mas mesti ngomong apa lagi?"
Tak disangka tiba-tiba Dela meraih ponsel di tanganku dengan gerakan cepat. Dia mengecek sesuatu. Lalu...
"Barusan aja mas abis nelepon dia, ini buktinya!" Dela menunjukkan register di ponselku. Aku nggak bisa mengelak. "Sementara semalam kita baru berantem soal ini, eh mas udah asyik-asyik teleponan sama dia."
"Mas lagi jelasin ke dia, supaya dia nggak hubungin mas lagi...."
"Basi!"
"Bener Del!"
Dela tak menggubris kata-kataku, dia beranjak. Aku mengejarnya.
"Lupain aku mas, aku mang gak pantes buat mas. Dia yang lebih mas butuhkan." Dela menepis tanganku.
Oalah jd intinya Dela minta putus! Putus dari Dela? Bisa gempa bumi aku! Aku nggak mau kehilangan cewek ini. Aku harus menyelamatkan hubungan ini.
"Del, Masa kayak gitu aja ngambek sih? Apa sih yang salah dengan persahabatan mas dan Ade?"
"Ya jelas salah! Mas kan udah punya cewek. jaga dong perasaan cewek mas!"
"Oke, kasih mas kesempatan. Apa yang harus mas lakukan?"
Dela berhenti. Menatapku dengan matanya yang dingin.
"Cewek mana pun akan berlaku sama mas. Jangan sakitin Dela! Kita udah sering bertengkar soal Ade, Ade, dan Ade...! Dela capek. Sekarang mas harus pilih Dela atau dia!"
"Kenapa harus milih? Mas nggak perlu milih Del, karena Dela memang pacar mas, sedangkan Ade cuma temen."
"Kalo emang Dela begitu berarti buat Mas, jauhin Ade. Cuma itu."
Aku terpekur. Lama kemudian aku mengangguk.
***
Aku menepati janjiku pada Dela. Sms dan telepon Ade tak kugubris. Lama-lama Dela mulai percaya lagi padaku dan aku merasa damai. Lama-lama juga Ade merasa kalau aku menjauhinya. Mungkin Ade kecewa. Suatu hari dia mengirim sms:
'Mas, Ade kangen sama mas. Dah lama mas gak ngubungin Ade. Ade sendirian dikos mas. Ade butuh mas.'
Aku trenyuh membaca kalimat itu. Ade mungkin sedang sendirian. Dia butuh seseorang. Tapi aku terikat janji pada Dela. Mau gak mau terpaksa sms itu aku abaikan. Hari berganti hari. Ade masih terus mengirim sms. Aku tak kuat untuk tak membalasnya, akhirnya tanpa sepengetahuan Dela aku mulai sms’an lagi sama Ade. Semakin lama hubunganku dengan Ade semakin mengakrab lagi. Apapun yang Ade lakuin pasti aku mengetahuinya.
Mang awalnya gak ketahuan. Tapi yang namanya bangkai disimpen, pasti ketahuan juga.
Dela tahu aku berhubungan lagi sama Ade, kemudian dia memilih pergi ninggalin aku.
***
Satu bulan, dua bulan aku tak mendengar kabar dari Dela. Dela memutuskan untuk pergi karena mungkin dah gak tahan sama sikapku. Aku emang cowok brengsek yang tak pernah sedikitpun menghargai kepercayaan Dela. Dela terlalu baik buatku. Dan aku ingin, dia juga akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari aku.
Satu bulan, dua bulan aku tak mendengar kabar dari Dela. Dela memutuskan untuk pergi karena mungkin dah gak tahan sama sikapku. Aku emang cowok brengsek yang tak pernah sedikitpun menghargai kepercayaan Dela. Dela terlalu baik buatku. Dan aku ingin, dia juga akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari aku.
Satu tahun berlalu, tapi aku masih belum pernah sekalipun dapat kabar tentang Dela. Entah dia pergi kemana, serasa hilang ditelan bumi.
***
***
1 September 2014, harusnya tanggal ini aku merayakan hari jadiku yang ke 5 tahun bersama Dela. Tapi,…. Tiba-tiba aku kangen sama Dela, muncul niatku untuk mencarinya.
Aku tanya temen-temennya gak ada yang mau ngasih tau. Aku tanya keluarganya, hanya diam membisu. Sudah segitu parahkah kesalahan yang aku lakukan terhadap Dela sampai-sampai semua orang membenci aku.
Berapa lama aku tak menghubungi Dela? Satu tahun, dua tahun.... Aku tak ingat lagi. Dela sudah terlalu kesakitan. Saat seperti itu mungkin Dela butuh genggaman tanganku. Butuh pelukanku. Karena yang ku tahu, Dela tak pernah bisa menahan sakit dan tak pernah bisa untuk tidak menagis setiap waktu. Aku harus menemuinya.
Berapa lama aku tak menghubungi Dela? Satu tahun, dua tahun.... Aku tak ingat lagi. Dela sudah terlalu kesakitan. Saat seperti itu mungkin Dela butuh genggaman tanganku. Butuh pelukanku. Karena yang ku tahu, Dela tak pernah bisa menahan sakit dan tak pernah bisa untuk tidak menagis setiap waktu. Aku harus menemuinya.
***
Aku bukan temen yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat sahabatku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih. Saat aku mencoba setia pada kekasih, pikiran dan perasaanku terus berkecamuk rasa bersalah.
Aku benar-benar bersalah pada Dela.
Dela, dialah sosok yang bisa menerima aku apa adanya. Menerima semua kekurangan dan kelebihan yang aku punya. Sungguh kesetiaannya tak pernah bisa disamakan dengan manusia lainnya. Aku yang selama ini mengaku mengenal Dela, mengetahui apa yang sedang menimpanya, dan ternyata berlaku tega kepadanya... mengabaikannya, mencampakkannya! Padahal setiap saat dia berusaha membuat aku bahagia.
Dewi, ia dia satu-satunya sahabat Dela yang pasti tahu dan mau ngasih tau aku dimana keberadaannya sekarang. Kucoba menelfon Dewi, ternyata nomer yang dulu pernah dia kasih masih aktif. Pelan-pelan kucoba menanyakan keberadaan Dela. Awalnya Dewi tak mau member tahu. Dia malah memaki-maki aku, nyumpahin aku blablaba,… dan akhirnya Dewi malah menangis. Entah kenapa aku juga tak tahu..
Kemudian dia bilang, "Dela itu menderita kangker otak sejak empat tahun yang lalu, masihkah kamu inget sa’at-sa’at dia ada masalah. Pasti dia bilang pusing kan? Tak pernahkah kamu tau selama ini?? Dasar pengecut,.. sa’at-sa’at kamu butuh dia aja kamu ada. Lha kamu kemana sa’at-sa’at Dela butuh kamu? Kamu terlalu jahat Han. Saat kondisinya sedang lemah dan kanker itu terus menyerangnya, dia butuh seseorang di sampingnya. Sekedar menggenggam tangannya, memberinya kekuatan. Cuma aku yang tahu tentang ini. Dia sendirian, nggak punya siapa-siapa. Apakah kamu juga tau Han sebenernya dia tu nungguin kamu. Dia ingin sekali kamu ada didekatnya sa’at dia mengalami masa-masa kritis seperti itu. Belakangan setelah kamu asik sendiri sama si Ade , aku nggak tahu siapa yang ada di sampingnya menggenggam tangannya, melalui masa-masa kesakitannya. Kamu tahu Han, saat kesakitan itu datang, Dela sangat tersiksa. Mengerang dan berusaha menahannya. Aku aja sering nggak kuat ngelihat dia begitu... kasihan Han. Kasihan Dela,………………”
Bumi seakan runtuh mendengar ucapan Dewi, Dela udah gak ada dan aku belum sempet minta maaf sama Dia. Belum sempet membalas semua kebahagiaan yang dia berikan kepadaku.
Dela,… kenapa kamu harus pergi secepat itu.
Keinginanmu pergi ke pantai aja belum aku penuhi. Kenapa kamu harus pergi dulu,…
Dela,……………
Maafin mas... maafin mas, Del!"
Kalimat itu kuucapkan di depan tanah merah dan basah. Sebulan Dela berjuang melawan kesakitannya, benar-benar sendirian. Tanpa seorang pun di sisinya, menggenggam tangannya, mendekapnya, dan memeluknya,….
Kalimat itu kuucapkan di depan tanah merah dan basah. Sebulan Dela berjuang melawan kesakitannya, benar-benar sendirian. Tanpa seorang pun di sisinya, menggenggam tangannya, mendekapnya, dan memeluknya,….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar