Selasa, 26 April 2011

Cinta Ada Tanpa Kata

andai saja mata bisa berbicara..
mungkin aku hanya memandangmu..
melihatmu dan memberimu tanpa sesuatu..
andai mata bisa berbicara..
mungkin aku tak akan malu bisikan ini terdengar siapapun..
mungkin kata-kata ini akan tersimpan rapi dalam bilik hati yang tersembunyi..
dan mungkin juga gak pernah ada sakit ketika diam menyelimuti..
andai mata bisa berbicara..
semuanya mudah tanpa beban nada..
tanpa memendam gelisah di dada..
dan tanpa suara semua akan terjadi begitu saja..
mengalir apa adanya..
dan ketika cinta harus ada tanpa kata..
cinta itu akan selalu bersemayam dalam jiwa..

Tentang Kita

Kalau tidak ada lagi kamu di hari depan ku..
Ini bukan salah mu..
Aku sudah memilih,
Jauh sebelum kamu menerka..
Aku sudah menentukan,
Jauh sebelum kamu merencanakan..
Aku sudah memutuskan,
Jauh sebelum kamu meminta aku untuk terus tinggal..
Kalau tidak ada lagi kamu di waktu depan ku..
Ini bukan salah ku..
Kamu sudah berusaha,
Jauh sebelum aku mencegah..
Kamu sudah bersikap,
Jauh sebelum aku mengubah..
Kamu sudah berangan,
Jauh sebelum aku menolak kamu untuk terus ada..
Kalau tidak ada lagi kita di masa depan..
Ini bukan salah kita..
Kita sudah saling menyayangi,
Meski akhirnya menjadi sangat disayangkan..
Kita sudah saling mengerti,
Meski akhirnya menjadi tidak dimengerti..
Kita sudah saling percaya,
Meski akhirnya menjadi tidak bisa dipercaya..
Kalau masa depan yang terjadi tidak seperti bayangan di masa lalu..
Ini bukan salah masa lalu..
Kalau lelaki yang bersama ku saat membentang janur kuning bukan kamu..
Ini pun bukan salahnya..
Dan kalau di masa depan hanya ada aku dan kamu..
Ini bukan tentang kesalahan..
Ini hanya tentang mengikhlaskan ‘kita’..

Minggu, 24 April 2011

DO'A DEA

Ya Rob,.....
Aq bertemu dengan Dia atas kehendak-MU.
Aq berpisah dengan Dia juga karena kehendak-MU.
Jangan biarkan aq menangis karena perpisahan ini ya Rob,..
karena qu tau semua ini atas kehendak dan takdir-MU,.....

Ya Rob,....
Aq percaya Engkau punya rencana dibalik ini semua.
Aq juga yakin Engkau pasti memberikan yang terbaik untuk Aq dan Dia.
Maka dari itu, ijinkan Aq untuk tetap mensyukurinya.
Pastikan Aq.
Lindungi Aq.
Tetapkan Aq di jalan-MU.
Jangan biarkan Aq Mencintai Ciptaan-MU melebihi Cintaku Kepada-MU

DO'A DEA

Ya Rob,.....
Aq bertemu dengan Dia atas kehendak-MU.
Aq berpisah dengan Dia juga karena kehendak-MU.
Jangan biarkan aq menangis karena perpisahan ini ya Rob,..
karena qu tau semua ini atas kehendak dan takdirmu,.....

Ya Rob,....
Aq percaya Enkau punya rencana dibalik ini semua.
Aq juga yakin Engkau pasti memberikan yang terbaik untuk Aq dan Dia.
Maka dari itu, ijinkan Aq untuk tetap mensyukurinya.
Pastikan Aq.
Lindungi Aq.
Tetapkan Aq di jalan-Mu.
Jangan biarkan Aq Mencintai Ciptaan-MU melebihi Cintaku Kepada-MU

Sabtu, 23 April 2011

Kesetiaan Dela


Cewekku namanya Dela. Sebenarnya dia baik. Apalagi wajahnya cantik dan dia adalah seorang yang periang. Suasana jadi selalu ramai. Dan malam ini, aku seneng banget bisa berduaan sama Dela setelah kesibukan di kampus. Malam ini indaaahh.... banget! Tapi sebuah sms telah mengacaukan semuanya. Dan Dela yang cantik dan baik itu, berubah bagai kucing yang sedang mengamuk.

Dela menyodorkan ponselku setelah dia membaca sms yang masuk tadi. Dela memang selalu 'menguasai' ponselku saat kami sedang bersama-sama.
Aku jadi penasaran. Ada yang nggak beres nih!
Ternyata dari Ade!
'Malam…. age apa? Sebel deh nggak bisa ketemu mas. Dari kemarin ada aja alasan. Skrg mas dmana?'
"Ada ya, temen yang rajin laporan; jam segini ada di sini, lagi begini, mau begitu, nanti begini, besok bla-bla-.bla! Selalu ada selamat pagi, sore, malam... terus selalu mau tahu ada dimana, ngapain...." Dela melotot. "Sumpah! Sebenernya hubungan kalian sampe mana sih? Ada apa? Nggak mungkin cuma temenan. Atau.... Temen Tapi Mesra?"
Aku memilih diam. Dela pantas marah. Dia pasti cemburu. Hei, cemburu kan tanda cinta. Berarti Dela cinta banget dong sama aku!
"Aq juga punya temen cowok, mas! Tapi nggak gitu-gitu banget! Aq bisa hapal, dalam satu minggu, sms dari cewek rese itu bisa masuk ke hp qm lebih dari dua puluh kali! Hebat!"
Aku masih diam.
"Aq pikir, setelah petengkaran-pertengkaran kita, qm akan membatasi hubungan qm sama cewek itu. Terutama setelah pertengkaran terakhir kita minggu lalu. Eh... ternyata hasilnya masih sama ! qm masih kayak begini?"
"Del, coba simak lagi. Baca sekali lagi. Dia bilang kan sebel nggak bisa ketemu mas dan selalu ada alasan. Nah, berarti mas udah berusaha menjauhi dia, kan? Ayolah, jangan rusak malam ini, Del!"
"Malam ini udah kelewat rusak! Aq mau pulang!"
Dela beranjak tanpa babibu lagi. Malam ini keindahannya sudah berakhir.

***
Aku bukan teman yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat temanku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih.

Dela berhak marah dan cemburu. Cewek mana pun pasti akan berlaku sama. Ade adalah salah satu teman baikku. Bersama teman yang lain, kami selalu bersama-sama. Kemudian kami semua pisah sekolah, tapi kami tetap berkomunikasi dan janji bertemu. Terakhir hubungan itu masih tetap terjalin saat kami masing-masing duduk di bangku SMA. Sejak kami duduk di bangku kuliah hubungan itu terputus. Meskipun kami berdua masih dalam satu kampus yang sama. Kami masing-masing sibuk. Saat aku mulai pacaran sama Dela, tiba-tiba Ade menghubungiku lagi dan komunikasi kami kembali lancar. Tapi Dela nggak bisa menerima. Di mata Dela, aku dan Ade terlalu dekat.
Ade benar-benar temankuku. Tidak lebih. Kalau menurut Dela aku terlalu memperhatikan Ade, ia, itu memang benar! Aku tahu banyak tentang Ade . Di balik sikapnya yang rame, ternyata suatu saat dia bisa begitu rapuh dan menja. Dia orang yang sangat lemah. Ade memang lemah. Dia tidak seperti kelihatannya. Kalau sudah begitu aku hanya bisa memeluknya. Berada di dekat Ade membuatku merasa dibutuhkan.
Ade gak  pernah tahu tentang Dela. Aku tak pernah menceritakan soal dela kepada Ade. Tapi kepada Dela aku bercerita tentang temanku Ade. Dela tau kalau Ade itu hanya temanku. Memang aq belum pernah mempertemukan mereka. Tapi Dela sudah cukup percaya sama saya. Mulanya Dela bisa menerima kalau aku temenan sama Ade. Tapi lama-lama kemudian Dela mulai menunjukkan sikap posesifnya. Dia mulai nggak suka melihat aku teleponan sama Ade. Dia juga benci banget kalau melihat sms Ade muncul. Aku juga bingung. Aku nggak mungkin memutuskan persahabatanku dengan Ade begitu saja, terutama karena aku tahu banyak apa yang sedang menimpa Ade... Ade sedang membutuhkan seseorang. Kebetulan orang itu adalah aku.

***
Hari ini aku ingin sekali menelepon Dela. Aku ingin minta maaf dan ingin merayunya. Tapi Dela pasti masih sebel banget sama aku. Kalau masih marah begitu, dia akan menolak teleponku atau malah menutupnya. Paling sial kalau dia malah ngamuk dan mengeluarkan kata-kata mantra di telepon. Mending tunda dulu deh menelepon dia. Biar dia tenang dulu. Kalau sudah tenang, aku yakin Dela pasti mau menerima teleponku dan memaafkan aku. Malah Dela pasti kangen sama aku. Hah!
Mending aku telepon Ade dulu. Aku akan jelaskan soal smsnya kemarin malam itu.
"Haaa... qm jahat!"
Itu kalimat pertama yang aku dengar begitu ponselku nyambung ke nomornya.
"Aq sibuk, De!"
"Haaa... sok sibuk! Sampe nggak sempet hubungin aq. Jahat!"
"Udah ah jangan marah-marah mulu! Kan sekarang mas hubungin elo. Gimana, lo sehat kan, baik-baik aja kan?"
"Lumayan. Kemarin agak capek dan kambuh lagi. Tapi baik-baik aja, kok. Sekarang Ade lagi nyiapin sumpahan buat mas!"
Itulah Ade. Rame n nyenengin,…
Tapi Dela… walaupun sebenernya aq sayang sama dia dan dia jg sayang sama aq, tapi cara dia menyayangiku kadang membuat aku bosan,.. pengen cari cewek lain aja lo lagi seperti ini,..
Hah,.. pikiranku malah tambah melayang kemana-mana,…
"Kenapa qm mas? Kok diam aja? Haaa... takut ya sama sumpahan aq? Tenang, sumpahan yang aq siapin ini nggak jahat-jahat banget kok. Cuma... 'sumpah jerawat lo tambah banyak, sumpah lo nggak ganteng lagi, sumpah lo nggak kawin-kawin.... hahaha!"
Aku masih diem, pikiranku kemana-mana. Sementara orang yang ada di seberang telfon sana terus menerus menegurku,…
"Heh, mas,… gak seru ahh!, ada apa cih??"
"Gak pa-pa de’, ya udah mas mau mandi dulu ya. Mas seneng Ade baik-baik aja."
"Ea, yaudah mas buruan mandi geh,.."
"Key,.."
Tep.
Baru saja ponsel kumatikan, di depanku sudah berdiri Dela plus dengan muka cemberutnya yang bikin cantiknya bener-bener hilang.
"Pantes dihubungin dari tadi hp mas sibuuukk terus."
"Dela? Ngapain ke sini?" Sumpah mas kaget. Nggak nyangka pacarku datang duluan sebelum aku minta maaf dan merayunya.
"Dela ke sini mau ngambil dompet yang semalam ketinggalan di jok motor mas! Gak usah GR!" Dela beranjak ke motorku membuka joknya, yang kebetulan kuncinya masih menggantung disana. Aku segera menarik tangannya.
"Del, maafin soal semalam ya."
"Aduh mas! Cape deh kalo cuma denger maaf, maaf, maaf."
"Abisnya mas mesti ngomong apa lagi?"
Tak disangka tiba-tiba Dela meraih ponsel di tanganku dengan gerakan cepat. Dia mengecek sesuatu. Lalu...
"Barusan aja mas abis nelepon dia, ini buktinya!" Dela menunjukkan register di ponselku. Aku nggak bisa mengelak. "Sementara semalam kita baru berantem soal ini, eh mas udah asyik-asyik teleponan sama dia."
"Mas lagi jelasin ke dia, supaya dia nggak hubungin mas lagi...."
"Basi!"
"Bener Del!"
Dela tak menggubris kata-kataku, dia beranjak. Aku mengejarnya.
"Lupain aku mas, aku mang gak pantes buat mas. Dia yang lebih mas butuhkan." Dela menepis tanganku.
Oalah jd intinya Dela minta putus! Putus dari Dela? Bisa gempa bumi aku! Aku nggak mau kehilangan cewek ini. Aku harus menyelamatkan hubungan ini.
"Del, Masa kayak gitu aja ngambek sih? Apa sih yang salah dengan persahabatan mas dan Ade?"
"Ya jelas salah! Mas kan udah punya cewek. jaga dong perasaan cewek mas!"
"Oke, kasih mas kesempatan. Apa yang harus mas lakukan?"
Dela berhenti. Menatapku dengan matanya yang dingin.
"Cewek mana pun akan berlaku sama mas. Jangan sakitin Dela! Kita udah sering bertengkar soal Ade, Ade, dan Ade...! Dela capek. Sekarang mas harus pilih Dela atau dia!"
"Kenapa harus milih? Mas nggak perlu milih Del, karena Dela memang pacar mas, sedangkan Ade cuma temen."
"Kalo emang Dela begitu berarti buat Mas, jauhin Ade. Cuma itu."
Aku terpekur. Lama kemudian aku mengangguk.

***
Aku menepati janjiku pada Dela. Sms dan telepon Ade tak kugubris. Lama-lama Dela mulai percaya lagi padaku dan aku merasa damai. Lama-lama juga Ade merasa kalau aku menjauhinya. Mungkin Ade kecewa. Suatu hari dia mengirim sms:
'Mas, Ade kangen sama mas. Dah lama mas gak ngubungin Ade. Ade sendirian dikos mas. Ade butuh mas.'
Aku trenyuh membaca kalimat itu. Ade mungkin sedang sendirian. Dia butuh seseorang. Tapi aku terikat janji pada Dela. Mau gak mau terpaksa sms itu aku abaikan. Hari berganti hari. Ade masih terus mengirim sms. Aku tak kuat untuk tak membalasnya, akhirnya tanpa sepengetahuan Dela aku mulai sms’an lagi sama Ade. Semakin lama hubunganku dengan Ade semakin mengakrab lagi. Apapun yang Ade lakuin pasti aku mengetahuinya.
Mang awalnya gak ketahuan. Tapi yang namanya bangkai disimpen, pasti ketahuan juga.
Dela tahu aku berhubungan lagi sama Ade, kemudian dia memilih pergi ninggalin aku.

***
Satu bulan, dua bulan aku tak mendengar kabar dari Dela. Dela memutuskan untuk pergi karena mungkin dah gak tahan sama sikapku. Aku emang cowok brengsek yang tak pernah sedikitpun menghargai kepercayaan Dela. Dela terlalu baik buatku. Dan aku ingin, dia juga akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari aku.
Satu tahun berlalu, tapi aku masih belum pernah sekalipun dapat kabar tentang Dela. Entah dia pergi kemana, serasa hilang ditelan bumi.


***
1 September 2014, harusnya tanggal ini aku merayakan hari jadiku yang ke 5 tahun bersama Dela. Tapi,…. Tiba-tiba aku kangen sama Dela, muncul niatku untuk mencarinya.
Aku tanya temen-temennya gak ada yang mau ngasih tau. Aku tanya keluarganya, hanya diam membisu. Sudah segitu parahkah kesalahan yang aku lakukan terhadap Dela sampai-sampai semua orang membenci aku.
Berapa lama aku tak menghubungi Dela? Satu tahun, dua tahun.... Aku tak ingat lagi. Dela sudah terlalu kesakitan. Saat seperti itu mungkin Dela butuh genggaman tanganku. Butuh pelukanku. Karena yang ku tahu, Dela tak pernah bisa menahan sakit dan tak pernah bisa untuk tidak menagis setiap waktu. Aku harus menemuinya.

***
Aku bukan temen yang baik. Aku juga bukan kekasih yang baik. Aku tak tahu apa sebutan yang tepat untukku. Saat sahabatku membutuhkan aku, aku malah mengabaikannya demi sebuah janji pada kekasih. Saat aku mencoba setia pada kekasih, pikiran dan perasaanku terus berkecamuk rasa bersalah.
Aku benar-benar bersalah pada Dela.
Dela, dialah sosok yang bisa menerima aku apa adanya. Menerima semua kekurangan dan kelebihan yang aku punya. Sungguh kesetiaannya tak pernah bisa disamakan dengan manusia lainnya. Aku yang selama ini mengaku mengenal Dela, mengetahui apa yang sedang menimpanya, dan ternyata berlaku tega kepadanya... mengabaikannya, mencampakkannya! Padahal setiap saat dia berusaha membuat aku bahagia.
Dewi, ia dia satu-satunya sahabat Dela yang pasti tahu dan mau ngasih tau aku dimana keberadaannya sekarang. Kucoba menelfon Dewi, ternyata nomer yang dulu pernah dia kasih masih aktif. Pelan-pelan kucoba menanyakan keberadaan Dela. Awalnya Dewi tak mau member tahu. Dia malah memaki-maki aku, nyumpahin aku blablaba,… dan akhirnya Dewi malah menangis. Entah kenapa aku juga tak tahu..
Kemudian dia bilang, "Dela itu menderita kangker otak sejak empat tahun yang lalu, masihkah kamu inget sa’at-sa’at dia ada masalah. Pasti dia bilang pusing kan? Tak pernahkah kamu tau selama ini?? Dasar pengecut,.. sa’at-sa’at kamu butuh dia aja kamu ada. Lha kamu kemana sa’at-sa’at Dela butuh kamu? Kamu terlalu jahat Han. Saat kondisinya sedang lemah dan kanker itu terus menyerangnya, dia butuh seseorang di sampingnya. Sekedar menggenggam tangannya, memberinya kekuatan. Cuma aku yang tahu tentang ini. Dia sendirian, nggak punya siapa-siapa. Apakah kamu juga tau Han sebenernya dia tu nungguin kamu. Dia ingin sekali kamu ada didekatnya sa’at dia mengalami masa-masa kritis seperti itu. Belakangan setelah kamu asik sendiri sama si Ade , aku nggak tahu siapa yang ada di sampingnya menggenggam tangannya, melalui masa-masa kesakitannya. Kamu tahu Han, saat kesakitan itu datang, Dela sangat tersiksa. Mengerang dan berusaha menahannya. Aku aja sering nggak kuat ngelihat dia begitu... kasihan Han. Kasihan Dela,………………”
Bumi seakan runtuh mendengar ucapan Dewi, Dela udah gak ada dan aku belum sempet minta maaf sama Dia. Belum sempet membalas semua kebahagiaan yang dia berikan kepadaku.

Dela,… kenapa kamu harus pergi secepat itu.
Keinginanmu pergi ke pantai aja belum aku penuhi. Kenapa kamu harus pergi dulu,…
Dela,……………
Maafin mas... maafin mas, Del!"
Kalimat itu kuucapkan di depan tanah merah dan basah. Sebulan Dela berjuang melawan kesakitannya, benar-benar sendirian. Tanpa seorang pun di sisinya, menggenggam tangannya, mendekapnya, dan memeluknya,….

Rabu, 20 April 2011

KASIH BULAN UNTUK MATAHARI


Satu sore, aku berlari-lari bersama anak laki-laki itu. Meskipun umurnya sedikit lebih tua dari aku, namun dia tetap kelihatan manis and imut. Pipi chubby-nya, kulit putihnya, dan tawa khas-nya, membuatku senang berteman dengannya. Karena lelah, aku menghempaskan diri dan tertidur di hamparan rumput hijau yang membentang disana. Ia pun duduk di sebelahku, ia tertawa renyah. Aku pun menatap lekat sosok anak laki-laki yang membuatku lebih mengerti indahnya dunia ini. Ben’rizky Utama, nama anak laki-laki itu. Dia bagaikan sosok malaikat kecil di antara ribuan bintang yang bersinar. Aku menyukainya karena ia selalu tulus dan selalu membuatku bersemangat.
"Dela... liat itu, mataharinya mulai tenggelam!" ujar mas Ben

"Indah ya... sama kayak kamu mas...,hehe" ujarku pelan

"Dela bilang matahari itu indah kayak aku?"

"he’em" aku menganggukkan kepala

"Kalau misalnya Mas Ben jadi matahari, Dela mau kan jadi bulannya?" tanya Mas Ben sambil melihat mata aku.

"Iya, Dela mau... Dela mau jadi bulan buat Mas Ben, supaya kalau malam hari, Dela bisa mengawasi Mas yang lagi tidur, hehee" aku tersenyum

"Makasih ya, Dela udah mau jadi bulan buat Mas Ben,  Mas janji bakal selalu jadi matahari buat Dela, supaya Mas juga bisa merhatiin Dela kalau Dela lagi sekolah, lagi main... dan juga supaya Mas Ben bisa selalu bikin Dela ngerasain kehangatan Mas. Mas Ben akan tetap jadi mataharinya Dela," Mas Ben lagi-lagi menatapku

"Makasih juga mas udah mau jadi matahari buat Dela, tetap bersinar ya... kalau Mas nggak bersinar, Dela pasti kedinginan...," pintaku pada Mas Ben.

"Pastinya... Mas Ben akan selalu bersinar buat Dela, dan janji ya... Dela juga harus selalu jadi bulan buat Mas Ben, soalnya kalau Mas Ben nggak bisa tidur, Mas bisa menatap Dela di atas langit," Mas Ben tersenyum

"Dela janji, matahari dan bulan akan selalu bersama, begitu juga Dela dan Mas Ben yang juga akan selalu bersama," aku menggenggam erat tangan Mas Ben

Mas Ben mengangguk, aku melihat keseriusan dari sorotan matanya. Ia terlihat seperti sebuah boneka patrick yang sangat lucu. Hmmmm,…. Ea,… Aku sudah berjanji, aku akan menjadi bulan untuk Mas Ben.

"Mas...."

"Ada apa Dela?"

"Mas Ben pakai ini ya..." ujarku

Aku memakaikan sebuah mahkota daun yang kurangkai sendiri, aku membuatnya dengan beberapa dedaunan dan bunga-bunga yang kuikatkan. Mas Ben makin cakep dengan mahkota yang ia pakai di kepalanya. Mas Ben bingung.

"Ini buat Mas?" tanya Mas Ben kebingungan

"Iya... Mas kan raja di hati Dela, jadi pakai terus ya..." ujarku

"Oh iya, Mas juga ada sesuatu buat Dela..."

"Apa?"

Mas Ben mengambil sebuah bungkusan plastik yang berisikan snak kering berbentuk ring. Ia mengambilnya satu, dan yang satunya lagi diberikan kepadaku. Aku keheranan.

"Dela pasang ini di jari manisnya Dela, dan Mas juga pakai ini di jari manis Mas," ujar Mas Ben.

Aku tersenyum geli, dengan segera, aku pun memasukkan snak ring itu ke jari manisku. Mas Ben juga.

"Ring ini, sebagai tanda pengikat Mas sama Dela, karena Mas sayang Dela, dan Dela juga sayang Mas kan?" tanya Mas Ben

"Tentu mas," aku mengangguk

Aku pun akhirnya menaruh kepalaku di pundak Mas Ben. Perlahan, dia mengusap pelan wajah dan rambutku. Aku tertawa kecil, aku tak pernah merasa sedamai ini sebelumnya. Hembusan angin yang meniup lembut rambutku, dan sinar matahari yang mulai malu bersinar, menambah kedamaian hatiku. Semoga saja aku dan Mas Ben memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Aku sayang dia...

-----------------------------------------------

Bertahun pun berlalu, kini aku sudah beranjak dewasa. Aku menjadi seorang penyanyi, tadinya aku hanya mengikuti audisi pencarian bakat, namun aku tak menyangka ternyata aku bisa menjadi cukup terkenal seperti ini. Itu merupakan salah satu anugerah di hidupku. Aku bisa mengenal banyak teman baru. Namun, sekian lama aku mencari, aku tak pernah bertemu lagi dengan Mas Ben. Tak bisa aku menahan rasa cinta dan rindu yang menyiksa ini. Cukup banyak lelaki yang menyukaiku, namun hanya satu lelaki yang berhak memiliki diriku seutuhnya. Tapi, Mas Ben tak pernah menemuiku lagi, bahkan ketika aku berkunjung ke rumahnya, rumah itu tidak ditempatinya lagi. Hal itu semakin mengusik hatiku. Kemanakah perginya matahari hidupku itu...?

"Dela, ini lirik lagu yang bakal kamu nyanyiin di konser nanti," ujar Dewi

"Ya, simpen aja di atas meja," ujarku singkat

"Belakangan ini kok kamu kelihatan murung terus sih?" tanya Dewi

"Nggak, aku cuma kangen sama seseorang...,"

Dewi menghela napas. Dewi, dia adalah sahabat sekaligus managerku. Aku mengenalnya sudah sejak aku sekolah, dan sampai sekarang kami berdua sangat dekat. Aku dan dia sudah seperti saudara kandung.

"Kalau kamu kangen sama seseorang, coba deh kamu tuangkan itu ke dalam lirik lagu,"

Aku menoleh.

"Good idea, aku bakal coba buat bikin lirik lagu,"

Aku mengambil gitarku, itu adalah gitar yang kupakai saat audisi. Aku mencoba menyeimbangkan melodi sambil merangkai lirik, hatiku rasanya ingin merintih. Andai saja Mas Ben tau,.. dan aku sangat ingin Mas Ben tau bahwa aku sekarang sudah berhasil menjadi seorang penyanyi, dan semoga saja dia juga sudah bisa menggapai impiannya sebagai seorang dosen.

Perlahan, aku pun melantunkan nyanyianku...

Andai dirimu tau... Rasa ini menyiksaku...

Muncullah kasih... Sinari hatiku ini...

Dengarkan jeritan hati ini... Dimana rasa kasihmu bersemi...

Kini aku sendiri... Dijerat kelamnya mimpi...

Janganlah kau redup wahai matahariku...

Berikan lagi aku... Kasih cinta dan sayangmu

Kupanjatkan doa untukmu cinta...

Semoga kau disana kan menyadarinya...

Bahkan burung pun enggan bernyanyi... Saat kau sendiri... Mematung menyepi

Resah hati ini mengunggumu kembali....

Semoga senja nanti... Kau muncul kembali...

Matahariku... lengkapi kembali kisah hidupku...


Perlahan, air mataku mulai menetes, aku pun menghapusnya dengan segera. Dewi menatapku sedih, ia menunduk dan menghela napas.

"Del.. siapapun yang kamu kangenin, dia pasti ngerasain hal yang sama..."

"Mudah-mudahan aja, Dew... aku terlalu kangen sama dia, aku terlalu sayang sama dia,"

"Sekarang, yang harus kamu lakuin.. cukup bernyanyi. Hati seseorang bakal tersentuh, saat dia mendengar nyanyian dari hati seseorang yang dianggapnya spesial. Seperti nyanyian kamu, pasti bakal terdengar sampai ke hatinya, dan semoga saja kamu dan dia bersatu lagi," Dewi merangkulku

"Makasih ya Dew... udah mau nyemangatin aku,"

"That's what friends are for, Dela... aku nggak mau liat kamu sedih terus-terusan."

"..."

Aku tersenyum tipis menatap Dewi, ya... aku tak boleh larut dalam kesedihan. Karena siang ini matahari bersinar cukup terik, Mas Ben sedang memperhatikanku. Matahariku itu terus mengawasiku sambil tersenyum, dan aku tak mau matahariku meredup hanya karena melihat lelehan air mataku. Maka, aku pun menatap ke jendela, aku memberi senyuman pada matahari. Mas Ben, semoga kita dapat bertemu lagi...

-----------------------------------------------

Sesampainya di tempat konser, di belakang panggung sudah ada Rahma dan Paula, mereka adalah vocal coach-ku, dan ada Deva, Rama, dan Ray, mereka adalah band yang mengiringiku ketika konser.

"Akhirnya kamu sampai juga, Del..." Rama tersenyum

"Ya... perjalanan yang melelahkan,"

"Lagu apa yang bakal kamu bawain sekarang, Del?" tanya Deva

"Hmmm... kertas liriknya ada di Dewi, aku lupa judulnya,"

"Lebih baik kamu pakai lagu yang tadi kamu buat aja, Del. Aku rasa lagu itu lebih bagus," saran Dewi.

"Yakin kamu?"

"Ya, lagu kamu itu penuh penghayatan, dan lagu yang bagus bukanlah lagu yang banyak liriknya, tapi lagu yang emosinya sampai ke hati pendengar. Terlebih jika lagu itu adalah jeritan hati kamu buat seseorang,"

Aku terdiam sesaat, mungkin benar juga, mungkin dengan lagu ini, Mas Ben bisa mendengar jeritan hatiku.

"Oke, aku bakal nyanyiin lagu itu,"

"Tapi kamu belum kasih judul buat lagu kamu itu, kamu mau kasih judul apa?"

"Hmmm... Kasih Bulan Untuk Matahari aja wis" ujarku pelan

"Judul yang bagus, aku nggak sabar denger lagu buatan kamu, Del. Lagu kamu pasti selalu bagus," Rama mengacungkan jempolnya

"Terima kasih semuanya,"

Kini, tiba waktunya aku untuk latihan bernyanyi sebelum naik ke panggung. Paula sudah siap dengan keyboard-nya, sementara rama memperhatikan kertas-kertas berisi lirik lagu yang akan kubawakan. Tak seperti biasanya, aku tak bersemangat. Aku seperti kehilangan sesuatu dalam diriku, namun aku tetap fokus bernyanyi. Saat kunyanyikan bait pertama, tiba-tiba saja Rama menyuruhku berhenti. Paula pun menghentikan permainan keyboardnya.

"Berhenti, Dela..." Rama mengernyitkan dahinya

"Kenapa? Ada nada yang salah?"

"Bukan!! Kamu nyanyi tanpa perasaan dan emosi, jadi kedengarannya datar dan kosong. Coba kamu nyanyi lagi, dan usahakan untuk masuk dalam lagunya,"

"Mmm... maaf," aku menyeka keringat dinginku

Aku pun menyanyi lagi, namun Rama masih memperhatikanku dengan heran. Seketika, ia pun menyuruhku untuk menghentikan nyanyianku. Aku berpikir, apa salahku? Aku benar-benar tak mengerti...

"Dela... kamu harus nyanyiin lagu, dengan penghayatan, buat lagu itu bener-bener menyentuh hati pendengar, kalau kamu nyanyiin lagu kayak gini, tanpa pengkhayatan... lagu-lagu kamu cuma terdengar kayak kata-kata biasa. Seolah lagu itu, bukan curahan hati kamu,"

"Tapi..."

"Kamu harus perbaiki pengkhayatan, kalau kamu nggak bisa menyampaikan emosi yang kamu rasain di lagu itu, itu merupakan kesalahan fatal, bagaimana orang yang kamu cintai bisa menyadari kalau lagu itu untuknya?"

"Aku akan coba lagi," ujarku dengan yakin

"Cobalah rileks dulu, Del... mungkin kamu terlalu tegang..." ujar Paula

Aku mengangguk pelan...

-----------------------------------------------

Kini, saatnya aku tampil. Aku berdiri di atas sebuah panggung megah penuh cahaya. Sorak penonton dan kilatan lampu kamera, menyambutku.

"Selamat malam semua... kali ini, aku akan bawain lagu baru, lagu ini untuk seseorang yang sangat aku cintai... semoga dengan lagu ini, aku dan dia bisa bersatu lagi... judul lagunya... Kasih Bulan Untuk Matahari...,"

Penonton semakin riuh. Pelan-pelan, aku memulainya. Dan kemudian aku menyanyikan bait demi bait lagu itu. Sambil menyanyi, aku membayangkan akan semua kenangan indah antara aku dan Mas Ben.
Mas Ben sudah berjanji akan menjadi matahari buat aku, dan aku akan setia menjadi bulan buat dia. Tapi entah mengapa matahari itu seakan enggan menyapa sang bulan. Malam ini, aku harap Mas Ben sedang menatap ke arah bulan, karena dimana bulan berada, disana cintaku berada.

Sampai akhirnya, aku selesai menyanyikan lagu. Tepuk tangan para penonton meramaikan suasana, puluhan bahkan ratusan bunga diberikan padaku. Namun aku masih tidak bisa mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan. Kehadiran Mas Ben. Hingga sekarang, apakah dia tau sudah selama apa aku menantinya untuk kembali? Aku harap... Mas Ben bisa kembali lagi. Aku percaya, dia pergi untuk kembali.

"Dela!! Hebat banget!! Penghayatannya bagus!!" sorak Rama

"Ya ampun, Del... nyentuh banget lagunya, I like it!" Deva merangkulku

"Makin lama, karir kamu makin bersinar...," ujar Ray dan Ana

"Bersinar?" tanyaku

"Ya, bersinar... kayak bulan," Ray tersenyum

"Tapi bulan itu masih butuh kehadiran dan hangatnya matahari, bulan nggak akan bisa bersinar lagi, kalau matahari itu belum muncul juga," tukasku pelan

"Sudahlah, Dela. Percayalah, suatu saat, matahari itu pasti bersinar lagi...," Dewi menghiburku

"Tapi sampai kapan bulan itu harus selalu sendiri?"

"Bulan nggak pernah sendiri, karena di sekeliling bulan, selalu ada bintang.. kamu bulan, dan kami semua bintangnya, kami nggak akan pernah ngebiarin kamu sendiri, bintang nggak akan pernah biarin bulan bersinar sendirian..."

"Terima kasih, bintang..."

"Sama-sama, bulan..."

-----------------------------------------------

Andai matahariku bersinar lagi...

Berikan aku sinar putihmu tuk temani langkahku

Kita tlah berjanji... kan sehidup dan semati

Lewati dunia dengan tegarnya cinta

Dengarkan rintihan jiwaku... cinta

Jangan pernah biarkan aku...

Melepaskan dirimu.. walau aku tak mampu

Yakinlah... kita kan bersatu

Berjanjilah wahai langit... dekap erat mentari dan bulan

Agar sinarnya memancarkan kasih...

Oh langit... beritahu aku...

Dimana cinta berada...


Aku bernyanyi, sekali lagi, dengan gitarku. Aku terdiam menatap malam. Aku masih ingat, saat dulu Mas Ben memberiku sebuah snak ring. Itu adalah ikatan antara aku dan Dia, namun sekarang ikatan itu perlahan menghilang bahkan memudar sama sekali. Padahal, ikatan itu adalah satu-satunya, harta yang tertinggal dari perpisahan antara aku dan Mas Ben. Kini semuanya menghilang... semuanya menghilang...

"Oh iya, La.. kamu besok mau ke makam kakakmu, ya?" terdengar sayup suara Dewi

"Iya, udah lama aku nggak kesana,"

Kakak Paula? Siapa? Aku pun menempelkan telinga ke dekat pintu, berusaha mendengar apa yang Dewi dan Paula ceritakan di luar.

"Kapan tepatnya kakak kamu meninggal?"

"Udah lumayan lama, beberapa tahun lalu..."

"Eh iya, nama kakak kamu siapa?"

"Namanya... Ben’rizky Utama..."

Deg!!
Aku tersentak dan mundur beberapa langkah. Ben? Apakah benar kakak Paula yang meninggal itu bernama Ben? Aku mencoba sabar, namun kakiku bergetar. Aku jatuh terduduk. Penantian yang sia-sia. Selama ini, aku baru sadar, mengapa Mas Ben tak pernah menemuiku lagi. Ternyata... matahariku itu telah lenyap. Aku menangis memeluk lutut, aku terisak, bulan mulai tertutup awan, menyisakan kekelaman. Tak terbayangkan, ternyata pertemuan saat sore hari dulu itu, adalah pertemuanku yang terakhir dengan Mas Ben. Sampai kapanpun, aku takkan pernah bisa bilang kalau aku juga sangat mencintai dia. Semuanya terlambat. Dia telah pergi.

"Mas Ben... kenapa kamu pergi? Padahal kamu selalu janji, kalau kamu akan selalu jadi matahariku, kenapa kamu pergi? Dan kenapa matahari itu nggak bersinar lagi? Mas Ben... aku hanya ingin kamu tau, aku sayang kamu... aku juga cinta kamu. Dan seandainya kamu tau, apakah kamu mau nerima aku apa adanya? Atau kamu bakal tetap ninggalin aku? Pertanyaan itu sampai kapanpun nggak akan pernah terjawab, kamu sudah PERGI..." teriakku histeris

Dewi dan Paula pun mendobrak pintu kamarku, mereka kaget melihatku yang menangis memeluk lutut.

"Kamu kenapa??" tanya Dewi dan Paula

"Kenapa kalian nggak pernah cerita kalau Mas Ben udah meninggal? Kenapa kamu, Paula, nggak pernah kasih tau aku kalau Mas Ben itu kakak kamu??!!"

"Maaf, tapi... Mas Ben bilang padaku, supaya jangan ngasih tau kamu Del... bahkan saat dia koma, dia nggak ingin kamu nangis karena keadaannya,"

"Tapi aku berhak tau!! Aku berhak tau!! Aku cinta Mas Ben, tapi kenapa Mas Ben pergi??"

"Sabar, Dela..." Dewi mencoba menenangkanku

"Gimana aku bisa sabar?? Seseorang yang aku cintai, sekarang pergi!! Sampai kapanpun aku nggak akan pernah bisa ketemu dia lagi!! Semuanya terlambat!! Terlambat!!"

Dewi dan Paula diam, menatapku penuh kesedihan. Aku hanya bisa menangis, menyesali takdir. Kini aku dan Mas Ben tak mungkin lagi menyatu.

-----------------------------------------------

Kurasakan getar cintanya... walau dari alam berbeda...

Wajah tulus yang kini tlah pucat pasi...

Dengarkan aku wahai cinta.... biarkan aku memilih

Jika aku bisa memilih... aku kan memiliki hatimu...

Terbanglah kau ke atas sana... bahagialah dalam kedamaian

Lepaskan semua beban... saat kau tinggalkan bumi

Walau kini aku kehilangan semuanya....

Dengarkan aku cinta, separuh hatiku kan slalu bersamamu...

Lepaskan semua derita... saat kau sampai di surga

Tetap sinari langkahku... dengan senyum khas-mu...

Saat matahari senja... aku berdiri menatap hari...

Segaris senyum tampak di langit... terimakasih, wahai matahari...



"Dela!!! Cepetan, kita udah ditunggu di studio rekaman," panggil Dewi

"Iya, tunggu dulu,"

Aku menaruh sebuah buket bunga di dekat batu nisan Mas Ben. Aku menaburkan bunga di atas tanahnya, berharap dia tenang, aku tersenyum dan mengusap batu nisannya. Aku pun mencium pelan batu nisan itu, kemudian tersenyum.

"Berjanjilah, matahariku, sinari aku terus ya... karena aku akan setia jadi bulan buat kamu..."

Aku menatap langit.

"Cinta kita nggak berhenti sampai disini, kan? Cinta kita kan abadi, Mas Ben... kamu adalah cinta pertama dan terakhir buatku, butuh waktu lama buat nyari penggantimu,"

Aku berdiri, dan mulai melangkah, perlahan kurasakan angin pelan meniup rambutku. Sama seperti saat senja dulu, aku merasa damai sama seperti dulu dekat Mas Ben. Aku yakin, matahari itu akan slalu bersinar. Dan aku berjanji, akan selalu menjadi bulan untuk menemani malam-malam Mas Ben. Beristirahatlah dengan tenang,....
Dela akan menyimpan cinta Mas Ben di hati ini,……………..

-THE END-

Senin, 18 April 2011

Wanita itu Makhluk Lemah,.. Eitzz Tunggu Dulu,..!!!

Wanita dilahirkan dengan kodrat yang berbeda dengan pria, baik dari cara berpikir ataupun tindakan, termasuk dalam persoalan yang dinamakan Cinta.

Setiap wanita ingin merasakan sentuhan lembut dan penuh cinta dari pria yang dicintainya. Dengan tidak bermaksud mendiskriminasikan pria, tetapi kebanyakan yang terjadi wanita selalu mengeluarkan air mata dalam persoalan Cinta.

Wanita tidak mudah melabuhkan cintanya pada pria, jiwanya selalu mengembara mencari pria idamannya. Ketika seorang wanita menemukan pria yang dicintainya dia akan memberikan semua apa yang dimilikinya, walaupun terkadang merobek-robek harga dirinya. Seorang wanita bisa mengorbankan perasaannya agar dapat dekat dengan pria yang dicintainya, meskipun pria tersebut tidak pernah melihatnya sedikitpun.

Dapat dekat dengan pria yang dicintainya membuat kebahagian tersendiri buat seorang wanita, dapat melihat pria yang dicintainya tersenyum walaupun bukan untuk dia, dapat memeluknya dengan kehangatan walaupun buat pria tersebut hanya sekedar napsu juga merupakan kebahagiaan tersendiri juga, seorang wanita tidak peduli bagaimana perlakuan pria yang dicintainya, baik itu perlakuan kasar atau pun caci maki yang harus diterimanya, wanita kadang berpikir untuk tidak perlu membalas karena dengan membalas masalah tidak akan selesai. Cukup dengan pengertian, kesabaran dan senyuman dalam menghadapinya. Selalu mengalah jika pria yang dicintainya marah-marah dari A-Z karena hal kecil, karena buat seorang wanita buat apa marah-marah berjamaah, jika pria yang dicintainya marah saja sudah cukup meriah, dengan senyum pasti semua baik-baik saja itulah pikiran seorang wanita, walaupun dalam hati kadang bertanya “kenapa? “. Hal inilah mengapa setiap pria menilai seorang wanita sebagai makhluk lemah.

Ketika Melihat pria yang dicintainya berjalan dengan wanita lain walaupun bukan pasangannya ataupun ketika sang pria mencoba merayu-rayu wanita lain yang bukan dirinya, perasaan seorang wanita ini pasti hancur. Tapi dengan senyum dia dapat menutupi hatinya yang hancur, dan ikut bahagia melihat pria yang dicintainya bahagia.

Walaupun sebagian orang bilang hal bodoh jika tetap mencintai pria seperti itu, hal bodoh jika menunggu pria tersebut, hal bodoh jika mengorbankan diri sendiri, dan hal bodoh lainnya yang dapat diungkapkan setiap orang. Tapi bagi sang wanita cinta itu tetap cinta.

Tak bisa dipungkiri memang, ketika seorang wanita sudah menjatuhkan pilihan hatinya, mereka akan susah untuk berpaling kepada pria lain, meski ada pria yg jauh lebih baik dari pria yang dicintainya.

Wanita itu bodoh???

Wanita itu lemah???

owh tidak,.....

Wanita memang membutuhkan kasih sayang, perhatian dan perlindungan. Tetapi bukan berarti wanita Itu makhluk yang bodoh, lemah dan tidak punya kemampuan. Kaum hawa ini Juga punya harga diri, punya martabat, dan punya kemampuan untuk mengubah Jalan hidup yang penuh lika-liku. Wanita sebenarnya makhluk yang hebat dan kuat Sebagai "teman di belakang".

kalau ditulis '' wanita itu mahluk lemah '' maka konotasinya wanita itu gak bisa ngapa2in, wew!!!

wanita itu mahluk gak berdaya dan parasit??

Jawabannya Tergantung dari kacamata apa kita akan mengupas segi bahwa wanita itu mahluk yang lemah.

kalau secara anatomi, yup ! benar, otot wanita tidak sekuat para pria.
tetapi bisa otot wanita di latih demikian rupa hingga semua seperti laki-laki dengan cara '' menyuntik hormon dan latihan olah raga spesial '', lihat saja Miss Binaraga.

tetapi yang dimaksud diatas tentunya bukan itu.

>> wanita yang dikarenakan prestige dirinya, baik itu secara karier atau lingkungan yang membentuk rasa percaya dirinya kuat, tidak akan lemah. dia tahu betul kapan dia harus menggunakan kelebihannya.

lihat saja mereka wanita yang berkarier tinggi, tidak lemah !

semangkin tinggi kedudukan seorang wanita dalam statusnya, maka semangkin tinggi rasa percaya diri dalam memberi keputusan.
lihat saja Presiden Megawati atau para menteri wanita.

mereka tidak lemah. ada kelebihan lain yang menutupi kelemahan anatomi mereka yakni, kecerdasan mereka dan kemampuan mereka dalam bidang diplomatik.

wanita malah terkenal sebagai mahluk '' yang supel '', yang bisa menyesuaikan diri dalam keadaan bagaimanapun sulitnya.
wanita sendiri diciptakan oleh Tuhan untuk melengkapi ciptaanNya, yakni sebagai teman hidup laki-laki yang Tuhan ciptakan.
wanita sebagai pendamping dan juga penerus garis keturunan.
wanita dapat juga merupakan sumber inspirasi,...

jadi,....masihkah anda berfikir kalau wanita itu makhluk yang lemah??????