Rabu, 20 April 2011

KASIH BULAN UNTUK MATAHARI


Satu sore, aku berlari-lari bersama anak laki-laki itu. Meskipun umurnya sedikit lebih tua dari aku, namun dia tetap kelihatan manis and imut. Pipi chubby-nya, kulit putihnya, dan tawa khas-nya, membuatku senang berteman dengannya. Karena lelah, aku menghempaskan diri dan tertidur di hamparan rumput hijau yang membentang disana. Ia pun duduk di sebelahku, ia tertawa renyah. Aku pun menatap lekat sosok anak laki-laki yang membuatku lebih mengerti indahnya dunia ini. Ben’rizky Utama, nama anak laki-laki itu. Dia bagaikan sosok malaikat kecil di antara ribuan bintang yang bersinar. Aku menyukainya karena ia selalu tulus dan selalu membuatku bersemangat.
"Dela... liat itu, mataharinya mulai tenggelam!" ujar mas Ben

"Indah ya... sama kayak kamu mas...,hehe" ujarku pelan

"Dela bilang matahari itu indah kayak aku?"

"he’em" aku menganggukkan kepala

"Kalau misalnya Mas Ben jadi matahari, Dela mau kan jadi bulannya?" tanya Mas Ben sambil melihat mata aku.

"Iya, Dela mau... Dela mau jadi bulan buat Mas Ben, supaya kalau malam hari, Dela bisa mengawasi Mas yang lagi tidur, hehee" aku tersenyum

"Makasih ya, Dela udah mau jadi bulan buat Mas Ben,  Mas janji bakal selalu jadi matahari buat Dela, supaya Mas juga bisa merhatiin Dela kalau Dela lagi sekolah, lagi main... dan juga supaya Mas Ben bisa selalu bikin Dela ngerasain kehangatan Mas. Mas Ben akan tetap jadi mataharinya Dela," Mas Ben lagi-lagi menatapku

"Makasih juga mas udah mau jadi matahari buat Dela, tetap bersinar ya... kalau Mas nggak bersinar, Dela pasti kedinginan...," pintaku pada Mas Ben.

"Pastinya... Mas Ben akan selalu bersinar buat Dela, dan janji ya... Dela juga harus selalu jadi bulan buat Mas Ben, soalnya kalau Mas Ben nggak bisa tidur, Mas bisa menatap Dela di atas langit," Mas Ben tersenyum

"Dela janji, matahari dan bulan akan selalu bersama, begitu juga Dela dan Mas Ben yang juga akan selalu bersama," aku menggenggam erat tangan Mas Ben

Mas Ben mengangguk, aku melihat keseriusan dari sorotan matanya. Ia terlihat seperti sebuah boneka patrick yang sangat lucu. Hmmmm,…. Ea,… Aku sudah berjanji, aku akan menjadi bulan untuk Mas Ben.

"Mas...."

"Ada apa Dela?"

"Mas Ben pakai ini ya..." ujarku

Aku memakaikan sebuah mahkota daun yang kurangkai sendiri, aku membuatnya dengan beberapa dedaunan dan bunga-bunga yang kuikatkan. Mas Ben makin cakep dengan mahkota yang ia pakai di kepalanya. Mas Ben bingung.

"Ini buat Mas?" tanya Mas Ben kebingungan

"Iya... Mas kan raja di hati Dela, jadi pakai terus ya..." ujarku

"Oh iya, Mas juga ada sesuatu buat Dela..."

"Apa?"

Mas Ben mengambil sebuah bungkusan plastik yang berisikan snak kering berbentuk ring. Ia mengambilnya satu, dan yang satunya lagi diberikan kepadaku. Aku keheranan.

"Dela pasang ini di jari manisnya Dela, dan Mas juga pakai ini di jari manis Mas," ujar Mas Ben.

Aku tersenyum geli, dengan segera, aku pun memasukkan snak ring itu ke jari manisku. Mas Ben juga.

"Ring ini, sebagai tanda pengikat Mas sama Dela, karena Mas sayang Dela, dan Dela juga sayang Mas kan?" tanya Mas Ben

"Tentu mas," aku mengangguk

Aku pun akhirnya menaruh kepalaku di pundak Mas Ben. Perlahan, dia mengusap pelan wajah dan rambutku. Aku tertawa kecil, aku tak pernah merasa sedamai ini sebelumnya. Hembusan angin yang meniup lembut rambutku, dan sinar matahari yang mulai malu bersinar, menambah kedamaian hatiku. Semoga saja aku dan Mas Ben memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Aku sayang dia...

-----------------------------------------------

Bertahun pun berlalu, kini aku sudah beranjak dewasa. Aku menjadi seorang penyanyi, tadinya aku hanya mengikuti audisi pencarian bakat, namun aku tak menyangka ternyata aku bisa menjadi cukup terkenal seperti ini. Itu merupakan salah satu anugerah di hidupku. Aku bisa mengenal banyak teman baru. Namun, sekian lama aku mencari, aku tak pernah bertemu lagi dengan Mas Ben. Tak bisa aku menahan rasa cinta dan rindu yang menyiksa ini. Cukup banyak lelaki yang menyukaiku, namun hanya satu lelaki yang berhak memiliki diriku seutuhnya. Tapi, Mas Ben tak pernah menemuiku lagi, bahkan ketika aku berkunjung ke rumahnya, rumah itu tidak ditempatinya lagi. Hal itu semakin mengusik hatiku. Kemanakah perginya matahari hidupku itu...?

"Dela, ini lirik lagu yang bakal kamu nyanyiin di konser nanti," ujar Dewi

"Ya, simpen aja di atas meja," ujarku singkat

"Belakangan ini kok kamu kelihatan murung terus sih?" tanya Dewi

"Nggak, aku cuma kangen sama seseorang...,"

Dewi menghela napas. Dewi, dia adalah sahabat sekaligus managerku. Aku mengenalnya sudah sejak aku sekolah, dan sampai sekarang kami berdua sangat dekat. Aku dan dia sudah seperti saudara kandung.

"Kalau kamu kangen sama seseorang, coba deh kamu tuangkan itu ke dalam lirik lagu,"

Aku menoleh.

"Good idea, aku bakal coba buat bikin lirik lagu,"

Aku mengambil gitarku, itu adalah gitar yang kupakai saat audisi. Aku mencoba menyeimbangkan melodi sambil merangkai lirik, hatiku rasanya ingin merintih. Andai saja Mas Ben tau,.. dan aku sangat ingin Mas Ben tau bahwa aku sekarang sudah berhasil menjadi seorang penyanyi, dan semoga saja dia juga sudah bisa menggapai impiannya sebagai seorang dosen.

Perlahan, aku pun melantunkan nyanyianku...

Andai dirimu tau... Rasa ini menyiksaku...

Muncullah kasih... Sinari hatiku ini...

Dengarkan jeritan hati ini... Dimana rasa kasihmu bersemi...

Kini aku sendiri... Dijerat kelamnya mimpi...

Janganlah kau redup wahai matahariku...

Berikan lagi aku... Kasih cinta dan sayangmu

Kupanjatkan doa untukmu cinta...

Semoga kau disana kan menyadarinya...

Bahkan burung pun enggan bernyanyi... Saat kau sendiri... Mematung menyepi

Resah hati ini mengunggumu kembali....

Semoga senja nanti... Kau muncul kembali...

Matahariku... lengkapi kembali kisah hidupku...


Perlahan, air mataku mulai menetes, aku pun menghapusnya dengan segera. Dewi menatapku sedih, ia menunduk dan menghela napas.

"Del.. siapapun yang kamu kangenin, dia pasti ngerasain hal yang sama..."

"Mudah-mudahan aja, Dew... aku terlalu kangen sama dia, aku terlalu sayang sama dia,"

"Sekarang, yang harus kamu lakuin.. cukup bernyanyi. Hati seseorang bakal tersentuh, saat dia mendengar nyanyian dari hati seseorang yang dianggapnya spesial. Seperti nyanyian kamu, pasti bakal terdengar sampai ke hatinya, dan semoga saja kamu dan dia bersatu lagi," Dewi merangkulku

"Makasih ya Dew... udah mau nyemangatin aku,"

"That's what friends are for, Dela... aku nggak mau liat kamu sedih terus-terusan."

"..."

Aku tersenyum tipis menatap Dewi, ya... aku tak boleh larut dalam kesedihan. Karena siang ini matahari bersinar cukup terik, Mas Ben sedang memperhatikanku. Matahariku itu terus mengawasiku sambil tersenyum, dan aku tak mau matahariku meredup hanya karena melihat lelehan air mataku. Maka, aku pun menatap ke jendela, aku memberi senyuman pada matahari. Mas Ben, semoga kita dapat bertemu lagi...

-----------------------------------------------

Sesampainya di tempat konser, di belakang panggung sudah ada Rahma dan Paula, mereka adalah vocal coach-ku, dan ada Deva, Rama, dan Ray, mereka adalah band yang mengiringiku ketika konser.

"Akhirnya kamu sampai juga, Del..." Rama tersenyum

"Ya... perjalanan yang melelahkan,"

"Lagu apa yang bakal kamu bawain sekarang, Del?" tanya Deva

"Hmmm... kertas liriknya ada di Dewi, aku lupa judulnya,"

"Lebih baik kamu pakai lagu yang tadi kamu buat aja, Del. Aku rasa lagu itu lebih bagus," saran Dewi.

"Yakin kamu?"

"Ya, lagu kamu itu penuh penghayatan, dan lagu yang bagus bukanlah lagu yang banyak liriknya, tapi lagu yang emosinya sampai ke hati pendengar. Terlebih jika lagu itu adalah jeritan hati kamu buat seseorang,"

Aku terdiam sesaat, mungkin benar juga, mungkin dengan lagu ini, Mas Ben bisa mendengar jeritan hatiku.

"Oke, aku bakal nyanyiin lagu itu,"

"Tapi kamu belum kasih judul buat lagu kamu itu, kamu mau kasih judul apa?"

"Hmmm... Kasih Bulan Untuk Matahari aja wis" ujarku pelan

"Judul yang bagus, aku nggak sabar denger lagu buatan kamu, Del. Lagu kamu pasti selalu bagus," Rama mengacungkan jempolnya

"Terima kasih semuanya,"

Kini, tiba waktunya aku untuk latihan bernyanyi sebelum naik ke panggung. Paula sudah siap dengan keyboard-nya, sementara rama memperhatikan kertas-kertas berisi lirik lagu yang akan kubawakan. Tak seperti biasanya, aku tak bersemangat. Aku seperti kehilangan sesuatu dalam diriku, namun aku tetap fokus bernyanyi. Saat kunyanyikan bait pertama, tiba-tiba saja Rama menyuruhku berhenti. Paula pun menghentikan permainan keyboardnya.

"Berhenti, Dela..." Rama mengernyitkan dahinya

"Kenapa? Ada nada yang salah?"

"Bukan!! Kamu nyanyi tanpa perasaan dan emosi, jadi kedengarannya datar dan kosong. Coba kamu nyanyi lagi, dan usahakan untuk masuk dalam lagunya,"

"Mmm... maaf," aku menyeka keringat dinginku

Aku pun menyanyi lagi, namun Rama masih memperhatikanku dengan heran. Seketika, ia pun menyuruhku untuk menghentikan nyanyianku. Aku berpikir, apa salahku? Aku benar-benar tak mengerti...

"Dela... kamu harus nyanyiin lagu, dengan penghayatan, buat lagu itu bener-bener menyentuh hati pendengar, kalau kamu nyanyiin lagu kayak gini, tanpa pengkhayatan... lagu-lagu kamu cuma terdengar kayak kata-kata biasa. Seolah lagu itu, bukan curahan hati kamu,"

"Tapi..."

"Kamu harus perbaiki pengkhayatan, kalau kamu nggak bisa menyampaikan emosi yang kamu rasain di lagu itu, itu merupakan kesalahan fatal, bagaimana orang yang kamu cintai bisa menyadari kalau lagu itu untuknya?"

"Aku akan coba lagi," ujarku dengan yakin

"Cobalah rileks dulu, Del... mungkin kamu terlalu tegang..." ujar Paula

Aku mengangguk pelan...

-----------------------------------------------

Kini, saatnya aku tampil. Aku berdiri di atas sebuah panggung megah penuh cahaya. Sorak penonton dan kilatan lampu kamera, menyambutku.

"Selamat malam semua... kali ini, aku akan bawain lagu baru, lagu ini untuk seseorang yang sangat aku cintai... semoga dengan lagu ini, aku dan dia bisa bersatu lagi... judul lagunya... Kasih Bulan Untuk Matahari...,"

Penonton semakin riuh. Pelan-pelan, aku memulainya. Dan kemudian aku menyanyikan bait demi bait lagu itu. Sambil menyanyi, aku membayangkan akan semua kenangan indah antara aku dan Mas Ben.
Mas Ben sudah berjanji akan menjadi matahari buat aku, dan aku akan setia menjadi bulan buat dia. Tapi entah mengapa matahari itu seakan enggan menyapa sang bulan. Malam ini, aku harap Mas Ben sedang menatap ke arah bulan, karena dimana bulan berada, disana cintaku berada.

Sampai akhirnya, aku selesai menyanyikan lagu. Tepuk tangan para penonton meramaikan suasana, puluhan bahkan ratusan bunga diberikan padaku. Namun aku masih tidak bisa mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan. Kehadiran Mas Ben. Hingga sekarang, apakah dia tau sudah selama apa aku menantinya untuk kembali? Aku harap... Mas Ben bisa kembali lagi. Aku percaya, dia pergi untuk kembali.

"Dela!! Hebat banget!! Penghayatannya bagus!!" sorak Rama

"Ya ampun, Del... nyentuh banget lagunya, I like it!" Deva merangkulku

"Makin lama, karir kamu makin bersinar...," ujar Ray dan Ana

"Bersinar?" tanyaku

"Ya, bersinar... kayak bulan," Ray tersenyum

"Tapi bulan itu masih butuh kehadiran dan hangatnya matahari, bulan nggak akan bisa bersinar lagi, kalau matahari itu belum muncul juga," tukasku pelan

"Sudahlah, Dela. Percayalah, suatu saat, matahari itu pasti bersinar lagi...," Dewi menghiburku

"Tapi sampai kapan bulan itu harus selalu sendiri?"

"Bulan nggak pernah sendiri, karena di sekeliling bulan, selalu ada bintang.. kamu bulan, dan kami semua bintangnya, kami nggak akan pernah ngebiarin kamu sendiri, bintang nggak akan pernah biarin bulan bersinar sendirian..."

"Terima kasih, bintang..."

"Sama-sama, bulan..."

-----------------------------------------------

Andai matahariku bersinar lagi...

Berikan aku sinar putihmu tuk temani langkahku

Kita tlah berjanji... kan sehidup dan semati

Lewati dunia dengan tegarnya cinta

Dengarkan rintihan jiwaku... cinta

Jangan pernah biarkan aku...

Melepaskan dirimu.. walau aku tak mampu

Yakinlah... kita kan bersatu

Berjanjilah wahai langit... dekap erat mentari dan bulan

Agar sinarnya memancarkan kasih...

Oh langit... beritahu aku...

Dimana cinta berada...


Aku bernyanyi, sekali lagi, dengan gitarku. Aku terdiam menatap malam. Aku masih ingat, saat dulu Mas Ben memberiku sebuah snak ring. Itu adalah ikatan antara aku dan Dia, namun sekarang ikatan itu perlahan menghilang bahkan memudar sama sekali. Padahal, ikatan itu adalah satu-satunya, harta yang tertinggal dari perpisahan antara aku dan Mas Ben. Kini semuanya menghilang... semuanya menghilang...

"Oh iya, La.. kamu besok mau ke makam kakakmu, ya?" terdengar sayup suara Dewi

"Iya, udah lama aku nggak kesana,"

Kakak Paula? Siapa? Aku pun menempelkan telinga ke dekat pintu, berusaha mendengar apa yang Dewi dan Paula ceritakan di luar.

"Kapan tepatnya kakak kamu meninggal?"

"Udah lumayan lama, beberapa tahun lalu..."

"Eh iya, nama kakak kamu siapa?"

"Namanya... Ben’rizky Utama..."

Deg!!
Aku tersentak dan mundur beberapa langkah. Ben? Apakah benar kakak Paula yang meninggal itu bernama Ben? Aku mencoba sabar, namun kakiku bergetar. Aku jatuh terduduk. Penantian yang sia-sia. Selama ini, aku baru sadar, mengapa Mas Ben tak pernah menemuiku lagi. Ternyata... matahariku itu telah lenyap. Aku menangis memeluk lutut, aku terisak, bulan mulai tertutup awan, menyisakan kekelaman. Tak terbayangkan, ternyata pertemuan saat sore hari dulu itu, adalah pertemuanku yang terakhir dengan Mas Ben. Sampai kapanpun, aku takkan pernah bisa bilang kalau aku juga sangat mencintai dia. Semuanya terlambat. Dia telah pergi.

"Mas Ben... kenapa kamu pergi? Padahal kamu selalu janji, kalau kamu akan selalu jadi matahariku, kenapa kamu pergi? Dan kenapa matahari itu nggak bersinar lagi? Mas Ben... aku hanya ingin kamu tau, aku sayang kamu... aku juga cinta kamu. Dan seandainya kamu tau, apakah kamu mau nerima aku apa adanya? Atau kamu bakal tetap ninggalin aku? Pertanyaan itu sampai kapanpun nggak akan pernah terjawab, kamu sudah PERGI..." teriakku histeris

Dewi dan Paula pun mendobrak pintu kamarku, mereka kaget melihatku yang menangis memeluk lutut.

"Kamu kenapa??" tanya Dewi dan Paula

"Kenapa kalian nggak pernah cerita kalau Mas Ben udah meninggal? Kenapa kamu, Paula, nggak pernah kasih tau aku kalau Mas Ben itu kakak kamu??!!"

"Maaf, tapi... Mas Ben bilang padaku, supaya jangan ngasih tau kamu Del... bahkan saat dia koma, dia nggak ingin kamu nangis karena keadaannya,"

"Tapi aku berhak tau!! Aku berhak tau!! Aku cinta Mas Ben, tapi kenapa Mas Ben pergi??"

"Sabar, Dela..." Dewi mencoba menenangkanku

"Gimana aku bisa sabar?? Seseorang yang aku cintai, sekarang pergi!! Sampai kapanpun aku nggak akan pernah bisa ketemu dia lagi!! Semuanya terlambat!! Terlambat!!"

Dewi dan Paula diam, menatapku penuh kesedihan. Aku hanya bisa menangis, menyesali takdir. Kini aku dan Mas Ben tak mungkin lagi menyatu.

-----------------------------------------------

Kurasakan getar cintanya... walau dari alam berbeda...

Wajah tulus yang kini tlah pucat pasi...

Dengarkan aku wahai cinta.... biarkan aku memilih

Jika aku bisa memilih... aku kan memiliki hatimu...

Terbanglah kau ke atas sana... bahagialah dalam kedamaian

Lepaskan semua beban... saat kau tinggalkan bumi

Walau kini aku kehilangan semuanya....

Dengarkan aku cinta, separuh hatiku kan slalu bersamamu...

Lepaskan semua derita... saat kau sampai di surga

Tetap sinari langkahku... dengan senyum khas-mu...

Saat matahari senja... aku berdiri menatap hari...

Segaris senyum tampak di langit... terimakasih, wahai matahari...



"Dela!!! Cepetan, kita udah ditunggu di studio rekaman," panggil Dewi

"Iya, tunggu dulu,"

Aku menaruh sebuah buket bunga di dekat batu nisan Mas Ben. Aku menaburkan bunga di atas tanahnya, berharap dia tenang, aku tersenyum dan mengusap batu nisannya. Aku pun mencium pelan batu nisan itu, kemudian tersenyum.

"Berjanjilah, matahariku, sinari aku terus ya... karena aku akan setia jadi bulan buat kamu..."

Aku menatap langit.

"Cinta kita nggak berhenti sampai disini, kan? Cinta kita kan abadi, Mas Ben... kamu adalah cinta pertama dan terakhir buatku, butuh waktu lama buat nyari penggantimu,"

Aku berdiri, dan mulai melangkah, perlahan kurasakan angin pelan meniup rambutku. Sama seperti saat senja dulu, aku merasa damai sama seperti dulu dekat Mas Ben. Aku yakin, matahari itu akan slalu bersinar. Dan aku berjanji, akan selalu menjadi bulan untuk menemani malam-malam Mas Ben. Beristirahatlah dengan tenang,....
Dela akan menyimpan cinta Mas Ben di hati ini,……………..

-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar